image05 image06 image07

300x250 AD TOP

Feature Artikel

Buletin Kaffah

Jumat, 22 Mei 2026

Tagged under: ,

Dari Ibadah Haji Menuju Persatuan Umat dan Kejayaan Islam

Buletin Kaffah Edisi 444 (5 Dzulhijjah 1447 H/22 Mei 2026 M)

Setiap kali datang Bulan Dzulhijjah, kita akan selalu diingatkan dengan dua sosok agung, yakni Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Dari kedua utusan Allah SWT ini kita juga diingatkan dengan dua peristiwa besar dalam Islam, yakni ibadah haji dan kurban. Keduanya juga Allah SWT perintahkan untuk membangun Ka’bah. Dengan penuh ketaatan keduanya membangun Ka’bah seraya berdoa kepada Allah SWT. Peristiwa ini diabadikan dalam firman-Nya: 

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 

(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Duhai Tuhan kami, terimalah dari kami (amal-amal kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (TQS al-Baqarah [2]: 127). 

Baitullah yang disebut sebagai Ka’bah inilah yang berikutnya menjadi pusat pelaksanaan ibadah haji kaum Muslim seluruh dunia. 

Ibadah haji adalah bagian dari Rukun Islam yang hukumnya wajib bagi Muslim yang memiliki kemampuan. Ibadah haji juga menjadi simbol tentang ketaatan kepada Allah, pengorbanan sekaligus persatuan kaum Muslim sedunia. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:  

وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ 

Serulah manusia untuk mengerjakan haji! Niscaya mereka akan datang kepada kamu dengan berjalan kaki, juga dengan mengendarai unta kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh (TQS al-Hajj [22]: 27). 

*Simbol Ketaatan*

Ibadah haji merupakan salah satu syariah agung dalam Islam. Ibadah haji mengandung makna mendalam tentang ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Seluruh rangkaian ibadah haji mengajarkan bahwa seorang Muslim harus tunduk sepenuhnya pada perintah Allah SWT. Padahal kadang secara logika manusia tidak selalu memahami hikmah di balik setiap perintah-Nya, khususnya dalam ibadah haji dan kurban. 

Kisah Nabi Ibrahim as., Siti Hajar, dan Nabi Ismail as. menjadi fondasi spiritual ibadah haji yang menunjukkan puncak ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim as. rela meninggalkan keluarganya di padang tandus Makkah. Ia bahkan bersedia mengorbankan putranya karena ketaatan pada perintah Allah SWT. Dari sinilah ibadah haji  mengajarkan bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total pada kehendak Ilahi. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ 

Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah (TQS al-Baqarah [2]: 196). 

*Simbol Pengorbanan*

Selain simbol ketaatan, Ibadah haji juga merupakan simbol pengorbanan. Seorang Muslim yang berhaji harus mengorbankan harta, tenaga, waktu dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah SWT. Pakaian ihram yang sederhana mengajarkan pelepasan atribut duniawi seperti status sosial, kekayaan dan kebanggaan diri. Semua jamaah tampil setara di hadapan Allah SWT. Nilai pengorbanan ini juga mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia tidak boleh menjadikan seseorang sombong dan lalai dari tujuan akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

 مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Siapa saja yang menunaikan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Hadis ini menunjukkan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga proses penyucian jiwa melalui pengorbanan dan keikhlasan. 

*Simbol Persatuan*

Ibadah haji juga menjadi simbol persatuan umat Islam sedunia. Jutaan Muslim dari berbagai negara, dengan ragam bahasa dan warna kulit, berkumpul di Masjidil Haram dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT. 

Dengan demikian ibadah haji juga harus dipahami sebagai melting point (titik lebur) kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melebur menjadi satu tanpa lagi melihat suku bangsa, warna kulit, bahasa serta status ekonomi dan sosialnya. Semua menghamba hanya pada Rabb Yang Satu, Allah SWT.

Mereka menghadap kiblat yang sama. Mereka mengenakan pakaian ihram yang sama. Mereka melaksanakan ritual yang sama. Tanpa membedakan status sosial maupun kebangsaan.  

Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama persaudaraan yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia di atas dasar tauhid. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman: 

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ 

Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah di antara sesama saudara kalian itu, dan takutlah kepada Allah, supaya kalian mendapat rahmat (TQS al-Hujurat [49]: 10). 

Dengan demikian spirit ketaatan, pengorbanan dan persatuan yang terkandung dalam ibadah haji seharusnya tidak berhenti pada dimensi ritual individual semata. Ia juga seharusnya melahirkan kesadaran kolektif umat Islam dalam aspek sosial, politik dan peradaban. Ibadah haji mempertemukan jutaan kaum Muslim dari berbagai bangsa, bahasa dan mazhab dalam satu kiblat dan satu tujuan: penghambaan kepada Allah SWT. Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah fondasi persatuan Muslim seluruh dunia yang melampaui batas etnis maupun nasionalisme sempit. 

Dalam sejarah Islam, semangat persatuan ini pernah menjadi kekuatan besar yang melahirkan solidaritas politik dan peradaban Dunia Islam. Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama peradaban Islam klasik adalah kesadaran kolektif umat sebagai satu komunitas global (ummah), yang terhubung oleh akidah, hukum dan budaya intelektual yang sama. Kekuatan utama peradaban Islam yang menyatukan negeri-negeri Muslim itulah Khilafah Islamiyah. 

*Realitas Umat Hari Ini*

Akan tetapi, realitas Dunia Islam kontemporer menunjukkan kondisi yang berlawanan. Persatuan umat melemah akibat konflik politik, nasionalisme, sektarianisme dan kepentingan geopolitik global. Krisis kemanusiaan di Gaza Palestina menjadi salah satu contoh nyata lemah dan buruknya solidaritas politik Dunia Islam. Ribuan warga sipil terbunuh. Infrastruktur dihancurkan. Blokade berkepanjangan menimbulkan penderitaan kemanusiaan yang besar. 

PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional berkali-kali melaporkan tingginya korban sipil dan kerusakan fasilitas publik di Gaza akibat genosida yang berkepanjangan. Kondisi ini memperlihatkan adanya jurang antara simbol persatuan umat dalam ibadah dengan realitas politik Dunia Islam yang masih terfragmentasi.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga memperlihatkan kompleksitas hubungan antarnegara Muslim. Konflik yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat pada tahun 2026 ini sering dipengaruhi oleh kepentingan politik regional maupun global. Dalam situasi tersebut, sebagian negara Arab memiliki posisi politik yang berbeda-beda berdasarkan aliansi keamanan dan kepentingan nasional masing-masing. 

*Menuju Persatuan Umat Sedunia*

Karena itu ibadah haji seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ritual spiritual tahunan, tetapi juga sebagai momentum pembuktian ketaatan dan persatuan umat Islam sedunia. Jutaan kaum Muslim yang berkumpul di Masjidil Haram menunjukkan bahwa Islam memiliki potensi persatuan global yang sangat besar. Dengan jumlah populasi lebih dari dua miliar jiwa, umat Islam sesungguhnya merupakan salah satu kekuatan demografis terbesar di dunia. Jika potensi tersebut disatukan dalam satu kepemimpinan politik, maka umat Islam dapat menjadi kekuatan peradaban yang disegani dunia. Allah SWT berfirman: 

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ 

Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai (TQS Ali ‘Imran [3]: 103). 

Selain memiliki jumlah penduduk yang besar, Dunia Islam juga dianugerahi dengan sumber daya alam dan posisi geopolitik yang sangat strategis. Banyak negara Muslim berada di kawasan kaya minyak, gas, jalur perdagangan internasional dan lintasan transportasi global. Data Organization of the Petroleum Exporting Countries menunjukkan bahwa sebagian besar cadangan minyak dunia berada di negara-negara mayoritas Muslim. 

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah menjadi kekuatan besar dunia ketika umat bersatu dalam visi dan kepemimpinan yang kuat, yakni Khilafah Islamiyah, di bawah kepemimpinan seorang khalifah. 

Demikian pula di tanah air. Kaum Muslim harus menjaga persatuan dan memelihara ukhuwah islamiyah di tengah berbagai perbedaan politik, organisasi, maupun mazhab. Persatuan umat sangat penting agar masyarakat tidak mudah dipecah-belah oleh kepentingan sempit yang dapat melemahkan kekuatan mereka. Islam mengajarkan bahwa kaum Muslim adalah saudara yang harus saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. 

Karena itu perjuangan memperbaiki kondisi negeri harus dilakukan dengan semangat persaudaraan, dakwah, pendidikan dan kesadaran politik Islam. 
Dengan demikian spirit ketaatan dan persatuan ibadah haji harusnya menjadi energi besar untuk menggerakkan umat menuju suatu perintah agung; menegakkan Khilafah Islamiyah yang akan melaksanakan hukum-hukum Allah secara kaaffah yang selama ini terabaikan. Khilafah Islamiyah juga akan menyatukan umat Islam sedunia serta melindungi mereka dari berbagai kezaliman yang menimpa mereka.

Semoga Allah SWT senantiasa menolong dan meridhai perjuangan umat Islam di seluruh dunia untuk menegakkan kembali kejayaan peradaban Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Amin.

WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. [] 

---*---

*Hikmah:*

Rasulullah saw. bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh juga ikut merasakannya dengan tidak dapat tidur dan demam. (HR al-Bukhari dan Muslim). []

---*---

*1905 UPDATE KAFFAH*

*Pembunuhan Terus Berlanjut di Bulan Dzulhijjah*

Di saat kaum Muslimin memasuki bulan suci Dzulhijjah dengan harapan meraih ampunan dan rahmat Allah, darah umat Islam di Palestina dan Lebanon justru terus mengalir tanpa henti di tangan Zionis Yahudi. Di Gaza, jeritan para ibu tak pernah reda, anak-anak syahid bergelimpangan di bawah reruntuhan rumah yang dibombardir, sementara banyak jasad masih tertimbun puing dan belum mampu dijangkau tim medis yang serba terbatas. Dalam 48 jam terakhir saja, 13 Muslim kembali syahid dan puluhan lainnya terluka, menambah deretan panjang tragedi sejak 7 Oktober 2023 yang telah merenggut lebih dari 72 ribu nyawa dan melukai ratusan ribu lainnya. Di Lebanon, dentuman rudal dan serangan drone terus menghantam wilayah selatan; kendaraan sipil dibakar, anak-anak dibunuh, dan keluarga-keluarga tercerai-berai oleh serangan brutal yang tak mengenal belas kasihan.

Timur Tengah kembali berada di ambang eskalasi besar setelah Donald Trump mengancam Iran dan menyebut “waktu terus berdetak” untuk mencapai kesepakatan dengan AS, sementara Israel berada dalam status siaga tinggi dan siap bergabung dalam kemungkinan serangan baru terhadap Iran. Pembicaraan Trump dengan Benjamin Netanyahu semakin memperkuat sinyal perang, terlebih Israel disebut tengah menyiapkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Peristiwa penting lainnya adalah pertemuan menteri luar negeri BRICS di India yang membahas perang Iran dan kembali memunculkan perdebatan tentang posisi dunia Islam di tengah persaingan global. Pandangan ini menegaskan bahwa umat Islam sebenarnya memiliki kekayaan alam, posisi strategis, kekuatan militer, dan sumber daya manusia yang cukup untuk mandiri tanpa bergantung pada organisasi internasional seperti G20, G7, G8 maupun PBB. Namun, kelemahan umat saat ini justru berasal dari ketergantungan para penguasa Muslim kepada kekuatan Barat dan Timur sehingga kemandirian politik umat terus melemah.

Yang dibutuhkan umat hanyalah bersatu kembali untuk membentuk kekuatan besar yang layak memimpin dunia. Namun, para penguasa saat ini tidak akan membiarkan hal itu terjadi selama mereka tetap mempertahankan keyakinan dan kekuasaan mereka. Karena itu, umat harus bergerak untuk menyingkirkan mereka dari singgasana kekuasaan dan mengangkat seorang khalifah yang lurus, yang akan mengembalikan persatuan, kekuatan, dan kemuliaan umat Islam. Allah SWT berfirman:

﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96).Allahu Akbar. []

Sabtu, 09 Mei 2026

Tagged under: ,

Membangun Peradaban Emas Hanya Dengan Pendidikan Islam

Buletin Kaffah Edisi 442 (21 Dzul Qa’dah 1447 H/8 Mei 2026 M)

Indonesia baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional   2 Mei 2026. Peringatan Hardiknas ini seharusnya membawa harapan masa depan pendidikan. Akan tetapi, realitas di lapangan masih menyisakan berbagai kecemasan publik dan ironi struktural. 

Kebijakan efisiensi anggaran melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025, misalnya, memangkas belanja negara hingga ratusan triliun rupiah. Hal ini berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk pendidikan. Program lain seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berpotensi menekan ruang fiskal pendidikan. Sementara itu, kesejahteraan guru masih menjadi persoalan klasik. Banyak guru honorer menerima pendapatan di bawah standar kelayakan hidup. Hal ini memengaruhi kualitas pengajaran dan motivasi profesional. 

Data Kementerian Pendidikan juga mengungkap masih banyak sekolah di Indonesia yang mengalami kerusakan infrastruktur, mulai dari ruang kelas rusak hingga keterbatasan fasilitas dasar. Hal ini mencerminkan ketimpangan akses pendidikan yang belum terselesaikan secara sistemik.

*Ilusi Generasi Emas*

Arah kebijakan pendidikan tinggi juga memunculkan kegelisahan baru. Misalnya, ada wacana penutupan program studi yang alumninya dinilai tidak terserap oleh dunia industri. Demikian sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi pada momentum Hardiknas 2026. Ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi dan esensi pendidikan ke satu arah: pasar tenaga kerja. 

Pendekatan ini berisiko mereduksi fungsi pendidikan hanya sebagai penyedia tenaga kerja. Padahal seharusnya pendidikan dijadikan sebagai sarana pembentukan peradaban dan pembentukan manusia yang bertakwa. 

Dengan kondisi ini, Visi Indonesia Emas 2045—yang  hendak mewujudkan generasi unggul secara menyeluruh: memiliki kualitas intelektual tinggi, karakter kuat, sehat fisik dan mental, serta mampu berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa—tampaknya hanya akan menjadi ilusi belaka. Apalagi jika melihat berbagai kasus amoralitas yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan belakangan ini. Seolah-olah negeri ini semakin jauh dari cita-cita untuk melahirkan generasi emas tersebut. 

Lahirnya “generasi emas” yang menjadi cita-cita Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 akan semakin terasa jauh jika problem mendasar pendidikan tidak segera ditangani secara serius. Salah satunya adalah pengurangan anggaran perpustakaan yang berpotensi melemahkan budaya literasi pelajar. Padahal berbagai kajian akademik menegaskan bahwa budaya literasi merupakan salah satu fondasi utama bagi kualitas pembelajaran sepanjang hayat. Tanpa akses bahan bacaan yang memadai dan lingkungan literasi yang hidup, sulit membangun generasi yang kritis, kreatif dan inovatif.

Persoalan berikutnya menyangkut kesejahteraan dan distribusi tenaga pendidik. Masih banyak guru honorer yang menerima upah jauh di bawah standar kelayakan. Padahal mereka memegang peran strategis dalam proses pendidikan. Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu guru, tetapi juga pada kualitas pembelajaran secara keseluruhan. 

Di sisi lain, di berbagai daerah masih ditemukan sekolah dengan jumlah tenaga pengajar yang minim serta kondisi bangunan yang tidak layak. Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan masih adanya ruang kelas rusak yang belum tertangani secara optimal.

Lebih mencemaskan lagi, dunia pendidikan di negeri juga menghadapi krisis moral yang semakin mengkhawatirkan. Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk perundungan dan pelecehan seksual, menunjukkan tren peningkatan, bahkan terjadi di tingkat perguruan tinggi. Fenomena ini menjadi alarm serius bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membangun lingkungan yang aman dan beradab. 

Jika kondisi ini terus dibiarkan maka cita-cita melahirkan generasi emas bukan hanya tertunda, tetapi berisiko gagal. Pasalnya, pendidikan kehilangan esensi utamanya: membentuk manusia yang berilmu, berakhlak dan bermartabat yang merupakan pilar peradaban suatu bangsa. 

*Keunggulan Sistem Pendidikan Islam*

Islam menawarkan paradigma pendidikan yang lebih komprehensif dan unggul. Ini karena Islam meletakkan ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan kemuliaan. Kewajiban menuntut ilmu ditegaskan dalam hadis Nabi ﷺ:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim (HR Ibnu Majah). 

Al-Quran juga menegaskan kemuliaan orang berilmu: 

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتۚ 

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kalian beberapa derajat (TQS al-Mujadilah [58]: 11). 

Tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya sekadar untuk melahirkan saintis pembangun peradaban. Yang utama justru untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh (syakhshiyyah islaamiyyah). Tujuan utama pendidikan dalam Islam sejalan dengan tujuan penciptaan manusia, yakni untuk mewujudkan hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Pendidikan harus melahirkan manusia yang menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.  Hal ini ditegaskan dalam al-Quran: 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (TQS adz-Dzariyat [51]: 56).

Islam juga mewajibkan pemimpin negara untuk memuliakan ilmu, para pencari ilmu dan para pengajarnya. Dalam pandangan Islam, guru adalah profesi mulia dan wajib dimuliakan. Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaan orang yang mengajarkan ilmu: 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR at-Tirmidzi).

Pesan utama hadis ini menegaskan bahwa profesi guru yang mengajarkan ilmu adalah amal yang sangat mulia. Dalam pandangan Islam, kemuliaan guru ditandai dengan mendapat doa dari seluruh makhluk.  

Pemimpin negara juga wajib menyediakan infrastruktur pendidikan yang memadai. Prinsip kepemimpinan dalam Islam ditegaskan dalam Hadis Nabi saw.: 

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (pemimpin negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Tanggung jawab ini mencakup penyediaan sistem pendidikan yang berkualitas dan merata. Sejarah mencatat bagaimana lembaga-lembaga pendidikan seperti Baitul Hikmah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia yang didukung penuh oleh Negara (Khilafah Islam). Dari lembaga-lembaga semacam ini lahir para ulama dan ilmuwan terkemuka yang berkontribusi besar pada berbagai disiplin ilmu. 

*Membangun Peradaban Emas*

Islam juga mengarahkan pendidikan untuk membangun kekuatan umat. Tujuannya agar umat mandiri,  berpengaruh di tingkat global, serta terbebas dari penjajahan ekonomi dan ketergantungan teknologi. Sistem pendidikan Islam dengan kekuatan landasannya yang sempurna akan mampu mewujudkan negara super power yang akan membawa arah peradaban dunia. 

Peradaban besar yang lahir dari sistem pendidikan Islam akan menjadi kekuatan global yang mandiri dan mampu menghadapi hegemoni global peradaban sekuler kapitalistik saat ini. Islam menegaskan pentingnya menyiapkan kekuatan maksimal sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT: 

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٍ 

Persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampu (TQS al-Anfal [8]: 60).

Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada era Kekhalifahan Islam, umat Islam menjadi pusat inovasi dan peradaban dunia. Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri, yakni Montgomery Watt. Ia menyatakan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”

Jacques C. Reister juga berkomentar, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”

Bahkan yang menarik, sumbangsih peradaban Islam terhadap dunia, termasuk dunia Barat, juga pernah diakui oleh salah seorang mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Hal itu terungkap saat dia berpidato tanggal 5 Juli 2009. Dia antara lain menyatakan, “Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa...” (http://jakarta.usembassy.gov.).

Hal ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan iman, ilmu dan kekuasaan mampu melahirkan peradaban unggul. Hal ini membuktikan bahwa Islam, sebagai agama sempurna dengan seluruh perangkat ajarannya, mampu mewujudkan peradaban maju dan mulia. 

Alhasil, jika Indonesia ingin menjadi negara yang mengusung peradaban emas sekaligus menjadi negara adidaya yang maju dan kuat, tak ada jalan lain, kecuali negeri ini harus menerapkan sistem pendidikan Islam. Tentu dalam naungan institusi pemerintahan yang menjadikan Aqidah Islam sebagai asasnya, sebagaimana pada era kekhilafahan Islam dulu. 

WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. [] 

---*---

*Hikmah:*

Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Siapa saja yang mengingkari ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (TQS Ali Imran [3]: 19). []

---*---

*0505 UPDATE KAFFAH*

*Bagaimana Kita Mengalahkan Amerika?*

Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat tajam pada hari ke-67 konflik Iran, terutama di sekitar Selat Hormuz. Uni Emirat Arab mengklaim berhasil mencegat rudal Iran dan melaporkan kebakaran di fasilitas minyak Fujairah akibat dugaan serangan drone. Sejumlah negara seperti Qatar, Arab Saudi, Yordania, Kuwait, dan Uni Eropa mengecam insiden tersebut. Dampaknya juga mulai terasa dengan adanya korban luka di UEA dan Oman serta kerusakan pada fasilitas energi dan infrastruktur sipil.

Di tengah eskalasi tersebut, Amerika Serikat meluncurkan operasi “Project Freedom” untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan klaim menenggelamkan kapal kecil Iran dan mengawal kapal dagang. Namun, Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa mereka memiliki hak penuh atas kontrol Hormuz. Presiden AS Donald Trump juga mengancam Iran akan “dilenyapkan” jika menyerang kapal AS, sementara Iran menyatakan tidak ada solusi militer untuk krisis ini. Ketegangan yang terus meningkat ini turut mendorong kenaikan harga minyak dunia lebih dari 5 persen dan mengganggu stabilitas energi global.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir terdapat tiga korban jiwa (dua korban baru dan satu korban yang sebelumnya tertimbun puing) serta 11 orang terluka akibat serangan Israel. Sejumlah korban lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan dan belum dapat dijangkau oleh tim penyelamat. Sejak gencatan senjata pada 11 Oktober, total korban tercatat mencapai 834 orang tewas dan 2.365 orang luka-luka. Secara keseluruhan sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa mencapai 72.615 orang dengan 172.468 orang terluka (Kementerian Kesehatan Gaza, 5 Mei 2030).

Salah satu pertanyaan penting dalam perang Iran–AS (Amerika–Israel) adalah apakah Iran bisa mengalahkan Amerika. Dalam hal ini perlu dibedakan antara kemampuan bertahan dan kemampuan menang secara total. Iran terbukti mampu memberikan perlawanan dan menyulitkan AS, terutama melalui strategi perang asimetris dan pertahanan regional, namun belum memiliki kapasitas untuk mengalahkan Amerika sebagai kekuatan global. Hal ini karena AS masih unggul dalam militer, ekonomi, aliansi, dan pengaruh sistem internasional. Selama tatanan global yang dipimpin Barat masih berlaku, Iran maupun negara-negara Islam lainnya belum berada pada posisi untuk mengalahkan Amerika secara menyeluruh.

Dengan sistem Iran sekarang ini yang berbasis republik (nation-state), ditambah lagi paham sektarian yang diadopsi negara, Iran tidak akan bisa melakukan itu. Kecuali Iran bersama dunia Islam lain mencampakkan semua aturan Barat yang menjerat, membangun kekuatan dan jaringan global sendiri dengan sistem politik yang benar-benar lepas dari Barat. Dan itu hanya akan terwujud jika umat Islam memiliki Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah. Dan itulah yang harus diperjuangkan bersama umat Islam. Allahu Akbar.

Jumat, 03 April 2026

Tagged under: ,

Merawat Ketakwaan Pasca Ramadhan


Buletin Kaffah Edisi 437 (16 Syawal 1447 H /3 April 2026 M)

Ramadhan telah berlalu. Berbagai kenikmatan dan keutamaan yang Allah hamparkan sepanjang bulan itu kini sudah terhenti. Tinggal bagaimana kaum Muslim menghadapi sebelas bulan berikutnya sambil berharap Ramadhan berikutnya akan tiba.

Meski Ramadhan telah usai, ketakwaan tentu harus terus disemai. Bukankah tujuan ibadah shaum sepanjang Ramadhan lalu adalah untuk melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa? Bukan ketakwaan musiman yang hanya ada pada bulan Ramadhan saja. Akan tetapi, ketakwaan yang terus mengisi kehidupan umat sepanjang zaman.

*Tiga Kelompok Manusia*

Berkaitan dengan Ramadhan, ada tiga kelompok manusia. Pertama: Kelompok Muslim yang sebelum dan sesudah Ramadhan sama saja. Sama-sama mengabaikan ketaatan kepada Allah SWT. Ada atau tidak adanya Ramadhan tidak berdampak apa pun kepada mereka. Manusia dalam kelompok ini adalah yang paling celaka. Hati mereka telah terkunci akibat banyaknya perbuatan dosa yang mereka lakukan. Panggilan agung menuju ketakwaan tidak berpengaruh pada mereka. Inilah yang disebut oleh Allah SWT sebagai kelompok binatang ternak:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْ

Sungguh, Kami benar-benar telah menyediakan untuk Neraka Jahanam kebanyakan makhluk dari kalangan jin dan manusia  (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka gunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka memiliki mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah). Mereka pun memiliki telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah (TQS al-A’raf [7]: 179).

Kedua: Kelompok Muslim yang sebelum Ramadhan jauh dari Allah SWT dan sering mengabaikan ibadah. Akan tetapi, ketika Ramadhan tiba mereka bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah (shaum, tadarus dan tarawih sepanjang Ramadhan). Lalu saat bulan mulia itu berlalu, rangkaian amal shalih itu kembali menghilang. Mereka yang termasuk golongan ini adalah yang oleh ulama salafus-shalih disebut sebagai “Hamba Ramadhan”. Mereka baru mau mendekati Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahulLaah berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya pada  bulan Ramadhan saja. Sungguh seorang yang benar-benar shalih itu adalah orang yang istiqamah beribadah dan bersungguh-sungguh (taat kepada Allah SWT) sepanjang tahun.” (Ibnu Rajab, Lathaa'if al-Ma'aarif, hlm. 222).

Ketiga: Kelompok Muslim yang sebelum Ramadhan memang sudah dekat dengan Allah SWT. Mereka selalu bersungguh-sungguh menjalankan aturan Allah. Saat datang bulan Ramadhan ketaatan mereka semakin bertambah. Usai Ramadhan pun mereka tetap bekerja keras menjaga ketaatan tersebut. Inilah golongan yang beruntung karena mereka terus-menerus memelihara ketakwaan mereka sepanjang tahun. Bahkan setiap kali datang Ramadhan, bertambah lagi ketakwaan mereka.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًۭا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ 

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqān (kemampuan membedakan antara yang haq dan yang batil) kepada kalian, menghapus segala kesalahan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah memiliki karunia yang besar (TQS al-Anfal [8]: 29).

*Tanda Kesuksesan Ramadhan*

Seorang Muslim yang bertahan dalam ketakwaan usai Ramadhan menunjukkan bahwa amal-amal ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima. Sebaliknya, jika ketakwaan ikut pudar bersama berakhirnya Ramadhan, itu tanda amal-amalnya selama bulan Ramadhan tertolak. Setidaknya, itulah yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, “Kembali berpuasa (yakni puasa sunah pada Bulan Syawal) setelah menunaikan puasa Ramadhan adalah salah satu tanda amalan puasa Ramadhan itu diterima oleh Allah SWT. Sebabnya, jika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi dia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Imbalan (pahala) atas kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu dia ikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan sebelumnya diterima oleh Allah SWT. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu setelahnya malah dia ikuti dengan kejelekan, maka itu tanda kebaikan tersebut tertolak dan tidak diterima oleh Allah.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, hlm. 388).

Apalagi jika seorang hamba justru merencanakan kembali berbagai kemaksiatan setelah Ramadhan berakhir. Itu adalah keburukan yang luar biasa. Imam Ibnu Rajab an-Hanbali mengingatkan, “Siapa yang meminta ampunan secara lisan, tetapi hatinya bertaut pada kemaksiatan, serta berencana untuk kembali melakukan maksiat setelah bulan puasa, maka puasanya ditolak dan pintu penerimaan tobat ditutup.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma'aarif, hlm. 484).

*Merawat Ketakwaan*

Oleh karena itu, siapa saja yang menginginkan amal-amalnya sepanjang Ramadhan diterima oleh Allah SWT, ia harus merawat dan mewujudkan ketakwaan hakiki dalam dirinya. Ada sejumlah langkah yang harus dilakukan. Pertama: Menjadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya. Orang yang bertakwa akan berjuang keras mendapatkan ridha Allah meskipun ia harus mengorbankan dunianya dan mendapatkan celaan dari manusia. Rasulullah saw. bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ 

Siapa saja yang mencari ridha Allah meski dia harus dimurkai oleh manusia, maka Allah akan menjaga dirinya dari gangguan manusia. Siapa saja yang mencari ridha manusia, tetapi dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada manusia (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Kedua: Mewujudkan rasa takut hanya kepada Allah SWT. Dengan memiliki rasa takut kepada Allah SWT maka seorang Muslim akan terjaga dari perbuatan maksiat. Selanjutnya ia akan bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya. Allah SWT berfirman:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka. Mereka selalu berdoa kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut dan harap. Mereka pun menafkahkan rezeki yang Kami berikan (di jalan Allah) (TQS as-Sajdah [32]:16).

Ketiga: Menerima Islam secara kaaffah dan tidak memilah-milah aturan Allah SWT. Ia akan selalu berusaha khusyuk dalam beribadah, sekaligus berusaha sungguh-sungguh menjalankan hukum-hukum Islam dalam bidang sosial, ekonomi, militer, politik dan pemerintahan, dll. Allah SWT berfirman:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kalian mengimani sebagian Al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat (TQS al-Baqarah [2]: 85).
 
Keempat: Tidak menunda-nunda pengerjaan amal shalih, terutama amal-amal yang wajib. Nabi saw. memerintahkan kita agar bersegera dalam mengerjakan amal shalih sebelum datang fitnah yang menyulitkan kehidupan. Sabda beliau:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (kesulitan) seperti potongan malam yang gelap (HR Muslim).

Kelima: Memberikan al-walaa’ (loyalitas) hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta al-baraa’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir. Ketakwaan menuntut dua hal ini. Mustahil mencapai derajat takwa, sementara masih setia bersekutu/beraliansi dengan kaum kuffaar, seperti Amerika Serikat dan zionis Yahudi. Padahal Allah SWT telah berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang mengimani Allah dan Hari Kiamat itu saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya (TQS al-Mujadilah [58]: 22).

Keenam: Bersabar dalam ketaatan. Sesungguhnya menjadi hamba Allah yang bertakwa akan menghadapi berbagai ujian. Termasuk cemoohan dan permusuhan dari kaum kuffaar dan kaum fasik. Setiap Muslim yang ingin mewujudkan ketakwaan usai Ramadhan harus bersabar menghadapi semua tantangan tersebut. Nabi saw. bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر

Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api (HR at-Tirmidzi).

Syaikh Al-Mubarakfuri menukil perkataan Al-Qari, “Tidak mungkin menggenggam bara api kecuali dengan kesabaran yang luar biasa dan menanggung kesusahan yang sangat berat. Ini bisa terjadi pada zaman yang tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana bisa menjaga agama, kecuali dengan kesabaran yang besar.” (Al-Mubarakfuri,Tuhfah al-Ahwadzi, 6/444, Maktabah Syamilah).

*Penutup*

Semoga Allah SWT mengokohkan keimanan dan ketakwaan kita usai Ramadhan. Semoga Allah SWT pun mengokohkan diri kita dalam perjuangan menegakkan syariah Islam secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan, dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah). Hanya dengan itulah kehidupan islami kembali terlaksana dan kita pun kembali meraih kemuliaan. []

---*---

*Hikmah:*

Rasulullah saw. bersabda:

»إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا ‌أَنْتُمْ ‌عَلَيْهِ ‌أَجْرُ ‌خَمْسِينَ ‌مِنْكُمْ«

Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran. Orang yang tetap berpegang teguh pada ajaran agamanya di zaman itu akan mendapatkan pahala yang setara dengan amal-amal 50 orang dari kalian (para Sahabat Nabi saw). (HR Abu Dawud). []

---*---

*Prajurit Indonesia Gugur diserang Israel, Saatnya Indonesia Keluar dari BOP*

Situasi terkini menunjukkan krisis kemanusiaan di Gaza yang semakin parah, dengan total korban tewas mencapai puluhan ribu dan ratusan ribu lainnya luka-luka sejak Oktober 2023. Bahkan setelah gencatan senjata, korban masih terus berjatuhan, sementara banyak jenazah belum dapat dievakuasi akibat keterbatasan akses. 

Di saat yang sama, eskalasi militer antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus meningkat melalui serangan langsung maupun balasan rudal, disertai pengerahan pasukan dan kerusakan infrastruktur strategis. Konflik ini juga meluas ke berbagai wilayah seperti Lebanon, Yaman, Irak, dan kawasan Teluk, sehingga memperbesar dampak korban sipil serta memicu kenaikan harga minyak dunia dan risiko gangguan jalur energi global.

Gugurnya tiga prajurit terbaik Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) akibat serangan entitas penjajah yahudi bukan sekadar tragedi militer biasa. Ini adalah tamparan keras yang menyingkap hakikat pahit: keterlibatan Indonesia dalam operasi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa hanyalah ilusi keamanan dalam sistem yang rapuh dan penuh kepalsuan.

Entitas penjajah yahudi kembali menunjukkan wajah aslinya sebagai entitas penjajah brutal yang tidak tunduk pada hukum apa pun. Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian—yang secara resmi berada di bawah mandat PBB—membuktikan bahwa Israel tidak pernah menghormati hukum internasional. Lebih dari itu, ini menegaskan bahwa keberadaan pasukan PBB sama sekali tidak memiliki daya cegah terhadap agresi Zionis.

Namun yang lebih memalukan adalah sikap Perserikatan Bangsa-Bangsa itu sendiri. Lembaga yang selama ini diagungkan sebagai penjaga perdamaian dunia justru gagal melindungi pasukannya sendiri. Tidak ada tindakan tegas, tidak ada sanksi nyata. Semua ini memperlihatkan bahwa PBB hanyalah alat politik negara-negara besar.

Di balik semua ini berdiri Amerika Serikat sebagai pelindung utama Israel. Dukungan politik, militer, dan diplomatik yang terus mengalir menjadikan Israel kebal dari hukuman. Dunia menyaksikan bagaimana kejahatan demi kejahatan dibiarkan tanpa konsekuensi. Ini bukan sekadar kegagalan sistem, tetapi bukti nyata adanya standar ganda dan kezaliman global yang terstruktur.

Dalam kondisi seperti ini, kehadiran Indonesia dalam misi PBB demikian juga BOP, bukan hanya tidak bermanfaat, tetapi justru memperkuat legitimasi sistem yang zalim. Fakta bahwa pasukan Indonesia tetap menjadi korban menunjukkan bahwa keikutsertaan dalam misi ini tidak memberi perlindungan, tidak memberi pengaruh, dan tidak menghentikan agresi.

Karena itu, sudah saatnya Indonesia mengambil langkah tegas dan berani: keluar dari operasi penjaga perdamaian PBB. Termasuk keluar dari Board of Peace, yang menjadi alat politik Trump. Indonesia tidak boleh terus menjadi bagian dari mekanisme global yang gagal melindungi bahkan pasukannya sendiri. Lebih dari itu, Indonesia harus mengecam keras entitas yahudi sebagai pelaku kejahatan genosida , sekaligus mengecam Amerika Serikat sebagai pihak yang memungkinkan kejahatan itu terus terjadi.

Sebagai negeri yang berdiri di atas prinsip anti-penjajahan, Indonesia seharusnya tidak terjebak dalam sistem internasional yang justru melanggengkan penjajahan. Tragedi ini menjadi bukti bahwa tanpa kekuatan politik dan militer yang mandiri, negeri-negeri Muslim akan terus menjadi korban.

Sudah saatnya umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan politik yang kuat dan independen, yang tidak tunduk pada tekanan Barat dan tidak bergantung pada lembaga seperti PBB. Kepemimpinan yang mampu melindungi darah kaum Muslim, menjaga kehormatan negeri-negeri Islam, dan menghadapi agresi dengan kekuatan nyata. Kepemimpinan di bawah naungan Khilafah ala Minhajinnubuwah.  Ini bukan lagi soal diplomasi. Ini soal keberanian mengambil posisi. Saatnya Indonesia keluar dari ilusi, dan berdiri di barisan perjuangan melawan kezaliman global Bersatu bersama negeri-negeri islam lainnya. Allahu Akbar.

Jumat, 13 Maret 2026

Tagged under: ,

Umat Terpecah, Musuh Datang Dari Segala Arah



Buletin Kaffah Edisi 436 (24 Ramadhan 1447 H /13 Maret 2026 M)

Di tengah kekhusyukan ibadah Ramadhan, tepatnya pada akhir Februari, Amerika Serikat bersama Zionis Israel melancarkan operasi militer ke Iran. Operasi militer gabungan ini dinamakan “Operation Lion’s Roar” dan “Operation Epic Fury”. Lewat serangan udara, serangan ini menghancurkan sejumlah bangunan di Teheran dan menewaskan warga sipil, termasuk ratusan anak-anak sekolah dasar. Dalam serangan tersebut, pimpinan spiritual tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei turut tewas.

Serangan brutal secara besar-besaran juga dilancarkan oleh Israel ke Beirut, Lebanon. Zionis Yahudi juga menggunakan bom fosfor putih yang terlarang. Hampir 400 penduduk, termasuk anak-anak, tewas. Seribu lebih warga lain menjadi korban. 

*Kesombongan dan Kezaliman AS*

Serangan AS bersama Zionis Israel memberikan sejumlah pelajaran. Pertama: AS ingin mengokohkan hegemoni mereka di kawasan Timur Tengah, terutama dalam melindungi anak tiri mereka, Zionis Israel. Israel berkali-kali mengecam Iran karena merasa terusik dengan pengembangan teknologi nuklirnya. Mereka menuduh Iran akan mengembangkan persenjataan nuklir. AS pun merasa perlu mengeliminasi kekuatan negara atau pihak mana saja yang menjadi ancaman bagi sekutu terkuat mereka di Teluk, yakni Israel.

Kedua: AS ingin menegaskan dominasi kepemilikan persenjataan nuklir di dunia. Itulah sebabnya negeri ini gencar mengkampanyekan pembatasan senjata nuklir. Alasannya, demi menjaga keseimbangan dan perdamaian dunia. Padahal tujuan AS sebenarnya adalah ingin menghilangkan ancaman nuklir dari negara-negara lain. Hanya AS dan sekutunya yang diizinkan memiliki persenjataan nuklir, termasuk Israel. 

Sampai tahun 2025 jumlah rudal nuklir dan pangkalan nuklir milik Amerika Serikat di seluruh dunia sekitar 3.700 unit. Dari total 12.241 hulu ledak nuklir global, sekitar 9.614 unit merupakan hulu ledak yang aktif dan siap digunakan. Zionis Israel sendiri diperkirakan memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir dan persediaan plutonium sebanyak 980 kg, yang cukup untuk membuat 170 hingga 278 senjata nuklir.

Ketiga: Operasi militer ini juga sebagai tekanan AS terhadap Iran agar tetap berada di dalam orbit politik AS dan menjadi agennya. Iran sendiri, meski di permukaan kerap menunjukkan sikap berseberangan dengan AS, sebenarnya selama bertahun-tahun sudah menjadi bagian dari satelit politik Amerika Serikat di Timur Tengah. Rezim Teheran berkali-kali membantu agenda politik dan operasi militer AS di kawasan tersebut. Karena itu sesungguhnya penguasa Iran, bersama AS, berlumuran darah kaum Muslim di Timur Tengah seperti di Irak, Afganistan, Suriah, dll. AS membutuhkan Iran untuk menjaga konfigurasi politik di Timur Tengah. Sebaliknya, Iran mendapat keuntungan dengan mengamankan kepentingan nasionalnya di Teluk.

Karena itu alasan ancaman nuklir Iran sesungguhnya mengada-ada. Sebabnya, pada tahun 2015, Obama mengikat perjanjian dengan partisipasi negara-negara Eropa untuk mengizinkan Iran melakukan pengayaan (pemurnian) nuklir hingga batas pengayaan 3,67%. Akan tetapi, ketika AS membaca bahwa rezim Iran berusaha keluar dari orbit politik mereka, maka tekanan dan operasi militer pun dilancarkan. 

Iran dan para penguasa Muslim menutup mata, bahwa sekutu sejati AS hanyalah Zionis Israel. Apa pun akan AS lakukan untuk membela anak tirinya tersebut, termasuk dengan menyerang sekutu mereka sendiri, seperti Iran. Juga dengan menyerang dan menjungkalkan para penguasa Muslim sekutu mereka. Padahal Allah SWT telah memperingatkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ، بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan kaum Yahudi dan Nasrani menjadi para pemimpin kalian. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Siapa saja di antara kalian menjadikan  mereka sebagai pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim (TQS al-Maidah [5]: 51).

*Pelajaran Penting*

Serangan AS dan Israel ini harusnya membuka mata kaum Muslim betapa rapuhnya kita hari ini. Tak ada satu pun yang melindungi umat dan negeri Muslim dari kejahatan negara-negara Barat. Satu-persatu negeri Muslim dihancurkan tanpa ada perlawanan dan perlindungan. Inilah refleksi keadaan yang sudah diperingatkan Rasulullah saw.:

"يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا." فَقَالَ قَائِلٌ: "وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟" قَالَ: "بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ." فَقَالَ قَائِلٌ: "يَا رَسُولَ اللَّه،ِ وَمَا الْوَهْنُ؟" قَالَ: "حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ."

“Hampir saja bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka.” Seorang Sahabat bertanya, “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?” Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian  seperti buih di lautan.  Allah menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Allah menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian.” Seorang Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

Hari ini jumlah umat Muslim lebih dari dua miliar jiwa. Akan tetapi, Nabi saw. menggambarkan kita seperti buih di lautan. Banyak, tetapi lemah. Di antara penyebabnya, beliau sebutkan, karena umat dibelit penyakit al-wahn: cinta dunia dan takut mati. Penyakit ini terutama berjangkit di kalangan para penguasa negeri-negeri Muslim. Mereka menjadi pengecut di hadapan kaum kafir imperialis karena takut kehilangan jabatan dan kekuasaan. Mereka malah memilih bersekutu dengan Israel dan menjadi kacung AS serta kafir penjajah lainnya. Padahal Allah SWT telah menegaskan keharaman ini:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang di luar kalangan kalian sebagai teman kepercayaan kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan bagi kalian (TQS Ali Imran [3]: 118).

Serangan ini juga seharusnya menjadi alarm keras bahwa Board of Peace yang disusun Donald Trump hanyalah omong-kosong dan batil. Tak ada perdamaian, kecuali sesuai dengan selera para penjajah. Siapa pun yang akalnya masih sehat paham, bahwa yang dijamin keamanan dan perdamaiannya adalah Israel dan kepentingan AS. Bukan Palestina dan Gaza. Hanya mereka yang mati hatinya yang ngotot bertahan di BoP dan mau berkali-kali ditipu oleh AS dan Zionis Yahudi. Padahal Nabi saw. bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ 

Seorang Mukmin tidak akan dipatuk ular dua kali dari lubang yang sama (HR al-Bukhari).

*Pentingnya Persatuan Umat dan Khilafah*

Umat tidak boleh mengharapkan  solusi kepada siapa pun di luar Islam. Tidak pada PBB ataupun BoP. Hanya dua hal yang dapat melindungi umat ini: Pertama, persatuan umat Muslim sedunia. Ini adalah kewajiban syar’i. Kaum Muslim harus bersatu dan saling melindungi. Nabi saw. telah berpesan:

الْمُسْلِمُ أَخُوالْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ. وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ، كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ. وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. 

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya dianiaya orang lain. Siapa saja yang memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya. Siapa saja yang melapangkan kesusahan seorang Muslim, Allah akan melapangkan kesukarannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat (HR Muttafaq ‘alayh).

Persatuan umat Muslim akan menciptakan kekuatan besar yang dapat menandingi bahkan melampaui negara-negara besar. Umat akan memiliki kekuatan militer raksasa serta pengaruh geopolitik yang luar biasa. Letak negeri Muslim yang strategis secara geopolitik seperti Selat Hormuz, Terusan Suez dan Selat Malaka dapat dimainkan untuk menekan dunia agar tunduk kepada umat ini.

Akan tetapi, persatuan ini tidak mungkin terwujud tanpa tegaknya Khilafah Islamiyah. Hanya institusi Khilafah yang dapat menyatukan seluruh wilayah Islam di dunia. Khilafah juga yang sanggup melindungi seluruh negeri Muslim. Demikian sebagaimana dulu tindakan Khalifah Abu Bakar ash-shiddiq menjaga kaum Muslim dari gerakan orang-orang murtad, para pengikut nabi palsu dan ancaman Romawi. Beliau sanggup menghancurkan ancaman-ancaman tersebut. Demikian pula Khalifah Harun ar-Rasyid, yang sanggup melindungi wilayah Islam dari ancaman Raja Nikephoros I (Naqfur), Romawi. 

Wahai kaum Muslim! Apakah belum jelas solusi atas keadaan kita sekarang ini? Kita wajib bersatu dalam ukhuwah islamiyah di bawah panji kepemimpinan Islam global (Khilafah). Hari ini tidak ada satu pun solusi yang masuk akal dan sesuai dengan hukum Islam untuk menyelesaikan serangan demi serangan negara-negara kafir terhadap kaum Muslim. Lalu mengapa kita masih tidak mau bergerak untuk menyatukan diri dan bersegera menegakkan kembali Khilafah Islamiyah?! []

---*---

*Hikmah:*

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah atas kalian saat kalian dulu saling bermusuhan,  lalu Allah  menyatukan kalbu-kalbu kalian, sehingga dengan nikmat-Nya itu kalian menjadi bersaudara. Ingatlah juga saat dulu kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya agar kalian mendapatkan petunjuk. (TQS Ali Imran [3]: 103). []

---*---

*Genosida Masih Berlanjut: Kejahatan Amerika Meluas hingga Iran*

Genosida yang dilakukan oleh entitas Zionis di Gaza hingga kini belum juga berhenti. Amerika Serikat, sebagai pendukung utama agresi tersebut, justru terus memperluas kejahatannya dengan menyerang Iran. Serangan militer itu menewaskan ratusan orang, termasuk lebih dari 100 pelajar madrasah yang menjadi korban rudal Tomahawk. Tindakan brutal ini menunjukkan bahwa kekerasan dan teror negara masih terus digunakan sebagai alat politik global.

Serangan Amerika terhadap Iran memberikan pelajaran penting bagi dunia Islam. Selama ini Iran memosisikan diri sebagai negara orbit Amerika. Dalam berbagai konflik regional, Iran kerap secara langsung maupun tidak langsung melayani kepentingan Amerika. Iran pernah menjadi pendukung utama pemerintahan Afghanistan bentukan Amerika pada era Hamid Karzai serta berperan dalam stabilitas politik Irak pasca invasi AS. Di Suriah, Iran membantu mempertahankan rezim Bashar Assad, sementara di Yaman konflik berkepanjangan juga memperlihatkan peran Iran dalam dinamika geopolitik yang kompleks.

Namun, bagi Amerika, posisi tersebut masih belum cukup. Di bawah kepemimpinan Donald Trump, Amerika tampak ingin memastikan Iran benar-benar tunduk sebagai negara antek, boneka, dan pengekor. Apalagi muncul kecenderungan di sebagian elit Iran untuk keluar dari orbit Amerika dengan membuka hubungan strategis yang lebih erat dengan China. Hal ini jelas tidak diinginkan Washington. Karena itu, serangan militer terhadap Iran diduga kuat merupakan upaya untuk mengubah struktur internal rezim Iran agar lebih patuh terhadap kepentingan Amerika.

Sementara itu, tragedi kemanusiaan di Gaza terus berlanjut. Laporan statistik harian menunjukkan korban jiwa terus bertambah akibat agresi Israel. Dalam 24 jam terakhir tercatat tiga orang syahid dan empat orang terluka. Banyak korban masih tertimbun puing-puing bangunan karena ambulans dan tim pertahanan sipil tidak mampu menjangkau lokasi serangan. Sejak gencatan senjata 11 Oktober, jumlah syahid mencapai 641 orang dan korban luka 1.711 orang. Secara kumulatif sejak 7 Oktober 2023, jumlah syahid telah mencapai lebih dari 72.000 orang, sementara korban luka melampaui 171.000 orang.

Realitas tragis ini menunjukkan kelemahan mendasar dunia Islam. Umat Islam terpecah dalam puluhan negara-bangsa yang masing-masing sibuk dengan kepentingannya sendiri. Ketika satu negeri diserang, negeri lain hanya mampu menyampaikan kecaman dan keprihatinan tanpa kekuatan nyata untuk menghentikannya. Tidak ada kekuatan kolektif yang mampu memberikan perlindungan bagi umat.

Karena itu, kebutuhan akan persatuan politik umat menjadi semakin mendesak. Konsep Khilafah Rasyidah ala Minhaj an-Nubuwwah merupakan solusi untuk menyatukan umat Islam dalam satu kepemimpinan yang kuat. Negara yang berlandaskan ideologi Islam akan mampu mengonsolidasikan kekuatan umat, melindungi negeri-negeri Muslim, serta mengembalikan kemuliaan Islam di panggung dunia. Dengan persatuan dan kekuatan politik yang kokoh, umat Islam tidak lagi menjadi korban agresi, tetapi menjadi kekuatan yang disegani sehingga musuh-musuhnya akan berpikir seribu kali sebelum melakukan penyerangan.

Jumat, 13 Februari 2026

Tagged under: ,

Marhaban Yâ Ramadhân: Mulia Dengan Takwa, Berkah Dengan Syariah



Buletin Kaffah Edisi 432 (25 Sya’ban 1447 H/13 Februari 2026 M)

RAMADHAN, bulan yang penuh keagungan dan keberkahan, akhirnya akan mendatangi kaum Muslim. Inilah bulan yang dari awal hingga akhir penuh dengan keutamaan. Inilah bulan yang berisi rahmat dan ampunan. Di dalamnya juga ada pembebasan dari api neraka.

Ramadhan juga sangat istimewa karena di dalamnya ada satu malam yang nilainya lebih mulia dari seribu bulan. Itulah Lailatul Qadar. Tidak yang ada seperti ini kecuali hanya pada bulan Ramadhan.

Keutamaan Shaum Ramadhan

Shaum Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang menjadi penegak agama. Nabi saw. bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ 

Islam dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berhaji ke Baitullah; dan shaum Ramadan (HR al-Bukhari).

Dalam hadis yang mulia ini, Nabi ﷺ menyerupakan Islam dengan sebuah bangunan yang kokoh. Beliau menggambarkan lima rukun Islam sebagai fondasi yang kuat dan teguh yang menopang bangunan tersebut. Tanpa fondasi itu, bangunan Islam tidak akan berdiri. Adapun amal-amal Islam lainnya ibarat pelengkap yang menyempurnakan bangunan itu. Karena itu seorang Muslim yang mengabaikan kewajiban shaum Ramadhan sama dengan menghancurkan agamanya sendiri. Allah SWT telah mewajibkan shaum Ramadhan dengan firman-Nya:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ 

Siapa saja di antara kalian ada pada bulan itu (Ramadhan), hendaklah ia berpuasa. Siapa saja yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib atas dirinya berpuasa sebanyak hari yang dia tinggalkan pada hari-hari yang lain (TQS al-Baqarah [2]: 185).
 
Shaum Ramadhan dinamakan syahrul maghfirah (bulan ampunan). Ia menjadi momen pelebur dosa bagi hamba yang berpuasa selama ia tidak melakukan dosa-dosa besar. Rasulullah saw. bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ 

Shalat lima waktu, (shalat) Jumat ke Jumat berikutnya dan (puasa) Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi (HR Muslim).
 
Rasulullah saw. juga menyampaikan bahwa Allah SWT membebaskan hamba dari api neraka pada Bulan Ramadhan. Sabda beliau:

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ، وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

Sesungguhnya pada setiap hari pada bulan Ramadan ada dari Allah pembebasan dari api neraka. Selama Ramadhan pula, jika setiap Muslim berdoa dengan suatu doa, Allah akan mengabulkan doanya (HR Ahmad).
 
Berbagai keistimewaan lain juga Allah SWT siapkan bagi hamba-Nya yang menjalankan shaum Ramadhan. Di antaranya: disiapkan bagi mereka gerbang khusus untuk masuk surga, yakni Gerbang ar-Rayyân; bau mulut mereka saat berpuasa akan dijadikan wangi kesturi di akhirat; mereka yang berpuasa diberi dua kebahagiaan, yakni saat berbuka dan saat berjumpa dengan Allah kelak di surga-Nya.

Mulia dengan Takwa

Tentu memprihatinkan jika masih ada Muslim yang mengabaikan shaum Ramadhan tanpa uzur syar’i. Sungguh ia telah kehilangan kesempatan mendulang kebaikan besar. Ia justru malah tenggelam dalam kemaksiatan besar. Nabi saw. bersabda:

«بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي ‌رَجُلَانِ ‌فَأَخَذَا ‌بِضَبْعَيَّ» وَسَاقَ الْحَدِيثَ، وَفِيهِ قَالَ: "ثُمَّ انْطَلَقَا بِي فَإِذَا قَوْمٌ مُعَلَّقُونَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، قُلْتُ: «مَنْ هَؤُلَاءِ؟» قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ... 

“Ketika aku sedang tidur, datanglah dua orang laki-laki kepadaku. Mereka lalu memegang kedua lenganku.” Beliau pun melanjutkan hadis tersebut. Di dalamnya beliau berkata, “Kemudian keduanya membawaku. Tampaklah suatu kaum yang digantung pada tumit mereka. Terbelah sudut-sudut mulut mereka. Mulut mereka pun mengalirkan darah. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka ini?’ Dijawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa Ramadhan sebelum waktunya halal bagi mereka untuk berbuka.’...” (HR an-Nasa’i).

Sungguh disayangkan jika ada Muslim yang tidak bersemangat dan bergembira menyambut Ramadhan. Padahal Allah hanya meminta kita berpuasa di dalamnya dengan meninggalkan sejenak saja kenikmatan duniawi seperti makan, minum dan hubungan suami-istri. Sebagai ganjarannya, Allah SWT akan mengangkat hamba-hamba-Nya ke derajat yang mulia, yaitu menjadi orang-orang yang bertakwa. Demikian sebagaimana firman-Nya:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Tidak ada manusia yang derajatnya lebih tinggi di hadapan Allah melainkan orang yang bertakwa. Takwa adalah menjalankan segenap perintah Allah SWT dan meninggalkan semua larangan-Nya. Mereka yang paling bertakwa dinyatakan oleh Allah SWT sebagai orang yang paling mulia di sisi-Nya. Demikian sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian (TQS al-Hujurat [49]: 13). 

Dengan ketakwaan itulah kaum Muslim menguasai dunia selama hampir 14 abad. Berbondong-bondong umat manusia memeluk Islam. Baik bangsa Arab ataupun non-Arab tunduk pada Islam di bawah kepemimpinan kaum Muslim. Inilah janji Rasulullah saw., bahwa kalimat tauhid akan mengantarkan pemiliknya untuk memimpin di dunia dan mendapat kemenangan di akhirat. Beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قُولُوا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ تُفْلِحُوا وَتَمْلِكُوا بِهَا الْعَرَبَ وَتَذِلَّ لَكُمُ الْعَجَمُ، وَإِذَا آمَنْتُمْ كُنْتُمْ مُلُوكًا فِي الْجَنَّةِ

Wahai manusia, ucapkanlah Lâ ilâha illâ Allâh (Tiada tuhan selain Allah), niscaya kalian akan beruntung. Dengan kalimat ini kalian akan menguasai bangsa Arab. Bangsa non-’Arab pun akan tunduk kepada kalian. Jika kalian beriman, niscaya kalian akan menjadi raja-raja di surga (Dr. Said Ramadhan al-Buthiy, Fiqh as-Sîrah an-Nabawiyah ma’a Mujiz li at-Târîkh al-Khilâfah ar-Râsyidah, I/115, Maktabah Syamilah).
 
Karena itu, jika kaum Muslim ingin kembali memimpin dunia, mereka harus menjadi insan-insan yang bertakwa. Mereka harus menjalankan syariah Allah SWT secara total dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Berkah dengan Syariah

Shaum Ramadhan adalah bagian dari syariah Islam. Sebagaimana shaum Ramadhan wajib dilaksanakan, demikian pula seluruh syariah Islam yang lain. Kaum Muslim wajib hanya mengamalkan dan menerapkan syariah Islam. Mereka tidak boleh memilih aturan lain. Inilah wujud ketakwaan. Ketakwaan pasti akan mendatangkan keberkahan. Demikian sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ

Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi (TQS al-A’raf [7]: 96).

Para ulama menjelaskan makna keberkahan sebagai tetapnya kebaikan dari Allah SWT dan keberlanjutannya, lalu dari keberkahan itu lahirlah kebahagiaan di dunia serta limpahan pahala di akhirat. 

Di dunia, syariah Islam menjanjikan kebaikan bagi umat manusia berupa keadilan dalam hukum, sosial dan ekonomi. Secara hukum, syariah Islam memperlakukan sama semua manusia tanpa ada privilege. Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. pernah dikalahkan oleh seorang Yahudi di pengadilan lewat keputusan Qadhi Syuraih. Secara sosial syariah Islam memperlakukan manusia sama; tanpa melihat perbedaan suku, ras, atau status sosial dan ekonominya. Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin yang berasal dari Makkah dengan kaum Anshar penduduk asli Madinah. Semua warga negara, Muslim maupun non-Muslim, juga berhak mendapatkan pelayanan yang sama dari Negara Khilafah.

Dalam bidang ekonomi semua warga negara berhak mendapatkan penghidupan yang layak serta kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam perlindungan dan jaminan negara. Bahkan Islam melarang keras harta hanya dinikmati oleh orang-orang kaya saja. Harta harus beredar di masyarakat untuk menggerakkan perekonomian. Syariah Islam juga melarang individu/swasta/asing menguasai SDA yang dibutuhkan oleh rakyat seperti migas, aneka tambang, hutan serta berbagai fasilitas umum seperti laut, sungai, danau; dsb.

Hamba-hamba yang beriman pastinya selalu berharap kemuliaan dan keberkahan dunia dan akhirat. Jalan untuk meraih itu adalah tidak lain dengan mewujudkan ketakwaan. Caranya dengan penerapan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Itu sudah menjadi janji dan ketetapan Allah yang wajib diimani.

Saatnya kita menjadikan Ramadhan kali ini sebagai langkah memantapkan hati untuk berpegang pada Islam dan berjuang mewujudkan penegakan hukum-hukum Allah SWT. Tentu dalam naungan Khilafah. Dengan itulah kemuliaan dan keberkahan akan datang.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

---*---

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرْدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ. فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. 
(HR an-Nasa'i). []

0902 UPDATE GAZA KAFFAH

BOARD OF PEACE DIRESMIKAN, GAZA TETAP DISERANG — MASIH BERHARAP?

Meski Board of Peace telah diresmikan dan Indonesia turut bergabung, Gaza tetap diserang tanpa henti. Pasukan pendudukan Yahudi kembali melancarkan serangkaian serangan intensif di berbagai wilayah Jalur Gaza, menargetkan rumah-rumah warga, tenda-tenda pengungsi, serta sebuah kantor polisi. Serangan ini menewaskan 31 orang, termasuk 7 anak-anak dan 7 perempuan, menjadikannya salah satu hari paling berdarah sejak perjanjian gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025.

Secara kumulatif sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023, jumlah korban telah mencapai 72.027 syuhada dan 171.651 korban luka. Serangan-serangan ini berlangsung dalam konteks pelanggaran yang terus-menerus dan disengaja, seolah-olah gencatan senjata tidak pernah ada. Penghancuran berulang juga terjadi di wilayah yang disebut sebagai “garis kuning”, menghabisi sisa-sisa rumah dan bangunan yang masih berdiri.

Sejak pemberlakuan gencatan senjata pada 11 Oktober saja, tercatat 576 syuhada, 1.543 korban luka, serta 717 kasus evakuasi atau penemuan jenazah. Dari total korban tersebut, 180 adalah anak-anak dan 72 perempuan, dengan lebih dari 1.360 orang terluka, di mana 57,5% di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.

Pasukan pendudukan menjalankan kejahatan ini dalam pola pelanggaran yang sistematis dan nyata. Apa yang terjadi di Gaza menjadi bukti telak rapuhnya gencatan senjata, sekaligus kegagalan apa yang disebut sebagai Board of Peace. Lebih dari dua tahun penderitaan berlangsung dalam segala bentuknya, sementara dunia hanya menonton.

Mereka yang tampak paling peduli sebatas melontarkan simpati dan kecaman kosong. Dunia seolah telah terbiasa dengan darah yang mengalir, serta jeritan para ibu dan anak-anak yang kehilangan. Sementara itu, para penguasa sibuk mempertahankan singgasana, mencari muka kepada Trump dan sekutunya Netanyahu, dengan mengorbankan Gaza dan rakyatnya.

Penjahat bukan hanya mereka yang melakukan kejahatan secara langsung. Setiap pihak yang turut serta, membiarkan, atau mampu mencegah namun memilih diam, adalah penjahat yang sama. Oleh karena itu, seluruh negara yang berpartisipasi dalam penandatanganan piagam pendirian Board of Peace—termasuk negara-negara yang akan bergabung kemudian—adalah mitra dalam kejahatan kolonialisasi Amerika atas Gaza.

Umat Islam wajib bersatu di bawah panji Khilafah, menjadikan tentara-tentara kaum Muslimin sebagai satu pasukan besar yang dahsyat untuk membela umat dan menuntut keadilan. Para penguasa negeri-negeri Islam wajib keluar dari dewan kolonial ini sebelum penyesalan datang, ketika penyesalan tidak lagi berguna.

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 227)

Allahu Akbar.

Jumat, 05 September 2025

Tagged under: ,

Meneladani Metode Perubahan Politik Ala Rasulullah SAW


Buletin Kaffah Edisi 409 (12 Rabiul Awal 1447 H/05 September 2025 M)

PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad saw. bukan hanya momentum ritual penuh lantunan shalawat dan doa semata. Ia juga merupakan kesempatan reflektif untuk menggali hikmah agung dari kelahiran Rasulullah saw. Salah satu hikmah terbesar yang jarang disorot adalah bahwa kelahiran beliau menandai awal perubahan besar dalam peradaban manusia: dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat Islam yang mulia. 

Pertanyaannya: Apakah kita siap meneladani metode beliau dalam melakukan perubahan politik hari ini? Ataukah kita tetap mempercayai metode sekuler seperti demokrasi yang telah terbukti berkali-kali hanya memberikan janji-janji (janji tentang kemakmuran, kesejahteraan, keadilan dll) yang tidak pernah terbukti sama sekali? Ataukah kita merasa yakin dengan people power (gerakan massa) yang acapkali dibumbui anarkisme (kekerasan) yang tak jarang memakan korban?

Isyarat Politik dalam Kelahiran Nabi saw.

Kitab Mawlîd al-Barzanjî karya Syaikh Ja’far al-Barzanji mengisahkan peristiwa besar saat Rasulullah saw. lahir. Cahaya memancar hingga menerangi istana Romawi di Syam. Pilar istana Kisra di Madain retak. Sepuluh menaranya runtuh. Api sembahan Persia padam. Danau Sawah mengering. Wadi Samawah tiba-tiba mengalirkan air.

Fenomena ini bukan sekadar kejadian kosmik. Ini adalah isyarat politik bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah ancaman langsung bagi imperium Persia dan Romawi saat itu. Beliau lahir sebagai pemimpin perubahan politik global yang akan meruntuhkan tatanan kufur dunia dan membangun peradaban baru: peradaban Islam.

Di Pasar Dzil Majaz Nabi saw. pernah berseru:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تُفْلِحُوا

Hai manusia, ucapkanlah “Lâ ilâha illalLâh,” niscaya kalian beruntung! (HR Ahmad).

Seruan itu bukan hanya dakwah tauhid. Ia sekaligus merupakan deklarasi visi politik bahwa perubahan sejati berawal dari pengakuan terhadap kedaulatan Allah SWT.

Lalu ketika menggali Parit Khandaq, Nabi saw. memukul batu besar tiga kali. Saat memulai pukulan pertama, beliau mengucapkan, “BismilLāh”. Lalu pecahlah sepertiga batu itu. Beliau bersabda, "AlLāhu Akbar! Aku telah diberi kunci Syam. Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar melihat istana-istana merahnya dari tempatku ini." Kemudian beliau mengucapkan, “BismilLāh”, lalu memukul sekali lagi hingga pecah sepertiga batu itu. Beliau bersabda, "AlLāhu Akbar! Aku telah diberi kunci negeri Persia. Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar melihat kota-kotanya dan aku melihat istana putihnya dari tempatku ini." Kemudian beliau mengucapkan, “BismilLāh”, lalu memukul dengan pukulan lain hingga tercabutlah sisa batu itu. Beliau bersabda, "AlLāhu Akbar! Aku telah diberi kunci negeri Yaman. Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar melihat pintu-pintu Kota Shan‘ā (Yaman) dari tempatku ini." (HR Ahmad dan an-Nasa’i).

Sejarah kemudian mencatat bahwa nubuwat itu menjadi nyata pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab ra. Saat itu, dua negara adidaya, yakni Persia dan Romawi, benar-benar berhasil ditundukkan di bawah kekuasaan Islam. 

People Power: Hanya Mengganti Rezim, Bukan Sistem

Di era modern, banyak orang berharap perubahan politik melalui people power (gerakan massa). Sejarah Indonesia pasca-Reformasi 1998 adalah contoh nyata. Rezim Soeharto tumbang. Orde Baru runtuh. Akan tetapi, apakah secara politik Indonesia benar-benar berubah? Tidak! Korupsi makin mengganas. Oligarki makin kukuh. Sumberdaya alam milik rakyat tetap ada dalam kendali swasta dan asing. Pajak makin mencekik. Utang negara dan bunganya makin tinggi. Rakyat tetap miskin. Pengangguran makin banyak. Elit politik makin bergelimang harta. Keadilan hukum makin sulit ditegakkan. Mengapa demikian? Sebabnya, yang jatuh hanya rezimnya, bukan sistem politiknya. Sistem demokrasi sekuler tetap dipertahankan. Padahal sistem inilah yang menjadi akar kerusakan yang membelit negeri ini. Ini karena dalam sistem demokrasi, kedaulatan (hak membuat hukum) ada di tangan manusia. Artinya, pembuatan hukum diserahkan pada hawa nafsu manusia. Padahal Allah SWT tegas telah menyatakan:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ 

Otoritas membuat hukum itu ada pada Allah (TQS Yusuf [12]: 40).  

Bahkan Allah SWT telah menegaskan:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْظَالِمُوْنَ

Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah pelaku kezaliman (TQS al-Maidah [5]: 45).

Allah SWT juga telah mengingatkan:

أَفَحُكْمَ ٱلْجَـٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًۭا لِّقَوْمٍۢ يُوقِنُونَ

Apakah sistem hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50).

Jelaslah, demokrasi yang menempatkan kedaulatan (hak membuat hukum) di tangan manusia adalah sistem hukum jahiliyah. Karena itu pergantian rezim (penguasa) tanpa pergantian sistem politiknya—ke arah sistem politik Islam—tak akan pernah menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Dakwah, Bukan Kerumunan Massa

Islam memiliki metode perubahan politik yang jelas dan tuntas. Rasulullah saw. tidak pernah menyerukan revolusi massa untuk menggulingkan rezim Quraisy. Beliau menempuh metode dakwah yang terarah melalui tiga tahap: 

Pertama, Tatsqîf (Pembinaan): Beliau membina para Sahabat dengan fikrah Islam agar keimanan mereka kokoh dan mereka siap berjuang untuk perubahan. 

Kedua, Tafâ‘ul ma‘a al-Ummah (Interaksi dengan Masyarakat): Beliau mendakwahkan Islam secara terang-terangan di tengah-tengah masyarakat sekaligus membongkar kebusukan sistem kufur hingga opini umum berpihak pada Islam.

Ketiga, Thalab an-Nushrah (Menggalang Dukungan). Beliau menggalang dukungan dari ahlul quwwah (para pemilik kekuasaan) untuk menegakkan sistem politik dan pemerintahan Islam.

Ketiga tahapan ini beliau tempuh tanpa kekerasan sama sekali apalagi melalui people power (gerakan massa) yang menjurus pada anarkisme (kekerasan). Pada akhirnya, terutama melalui tahapan thalab an-nushrah, beliau berhasil meraih kekuasaan (istilâm al-hukum) secara damai dari ahlul quwwah di Madinah yang didukung oleh mayoritas penduduknya. Saat itu mereka menyerahkan kekuasaan mereka secara sukarela kepada beliau. Sejak itu beliau segera memproklamirkan pendirian Daulah Islam untuk pertama kalinya.  

Dengan metode ini, perubahan politik yang lahir bukan sekadar jatuhnya penguasa, melainkan tumbangnya seluruh sistem jahiliyah, diganti dengan sistem Islam. Hasilnya adalah peradaban Islam yang bertahan berabad-abad lamanya.

Landasan Historis: Baiat ‘Aqabah Kedua

Ibn Hisyam bertutur: Tatkala mereka berkumpul untuk Nabi saw. di ‘Aqabah, beliau berkata kepada mereka, “Kalian membaiat aku untuk mendengar dan taat…serta untuk menolong dan melindungi diriku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak kalian.” (Ibnu Hisyam, Sîrah an-Nabawiyyah, 2/41).

Inilah Baiat ‘Aqabah Kedua yang menjadi landasan bagi penegakan Daulah Islam di Madinah. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh Al-Mubarakfuri: “Sesungguhnya baiat ini adalah fondasi kokoh bagi penegakan Daulah Islam pertama, yang memerintah dengan wahyu yang telah Allah turunkan dan membawa Islam ke seluruh dunia.” (Al-Mubarakfuri, Ar-Rahīq al-Makhtūm, hlm. 177)

Dari nukilan di atas tampak jelas bahwa Rasulullah saw. melakukan perjuangan perubahan politik: dari masyarakat jahiliyah di Makkah (lemah, tertindas) menuju masyarakat Islam di Madinah yang penuh dengan rahmat dan keadilan dalam naungan Daulah Islam.

Jalan Mana yang Kita Pilih?

People power (gerakan massa) sejauh ini hanya memberikan euforia sesaat. Faktanya, people power selalu gagal mengubah sistem rusak yang menjadi akar masalahnya. Sebaliknya, metode perubahan politik ala Rasulullah saw. telah terbukti efektif dalam proses perubahan hingga melahirkan peradaban agung. 

Alhasil, jika umat Islam benar-benar ingin lepas dari siklus tirani dan ketidakadilan, jawabannya bukan demokrasi atau people power (gerakan massa). Jawabannya adalah meneladani metode dakwah dan perubahan ala Rasulullah saw.: menempuh tharîqah nabawiyyah, menegakkan Islam kâffah dan membangun kembali sistem pemerintahan Islam. Itulah sistem Khilafah ‘alâ minhâj an-Nubuwwah sebagai pelanjut Daulah Islam yang dirintis oleh beliau untuk pertama kalinya.
 
Apalagi para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah sepakat bahwa Khilafah adalah kewajiban syar’i, bukan sekadar pilihan politik. Salah seorang ulama mazhab Syafii terkemuka, Imam al-Mawardi (w. 450 H), tegas menyatakan:

الإمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا، وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالإِجْمَاعِ

Imamah (Khilafah) itu ditetapkan sebagai pengganti kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Mengangkat seorang imam (khalifah) bagi umat hukumnya wajib berdasarkan Ijmak (Al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 5).

Imam an-Nawawi (w. 676 H), salah seorang ulama mu’tabar mazhab Syafii, juga menegaskan:

وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ نَصْبُ خَلَيْفَةٍ وَوُجُوْبُهُ بِالشَّرْعِ لاَ بِالْعَقْلِ 

Para ulama telah bersepakat bahwa wajib atas kaum Muslim untuk mengangkat seorang khalifah (menegakkan Khilafah). Kewajiban ini berdasarkan syariah. Bukan berdasarkan akal (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alaa Muslim, 12/205). 

Bahkan Imam an-Nawawi menganggap batil paham yang menolak kewajiban menegakkan Khilafah ini. Kata beliau:

وَأَمَّا مَا حُكِىَ عَنِ اْلأَصَمِّ أَنَّهُ قَالَ لاَ يَجِبُ وَعَنْ غَيْرِهِ أَنَّهُ يَجِبُ بِالْعَقْلِ لاَ بِالشَّرْعِ فَبَاطِلاَنِ

Adapun apa yang dikisahkan dari al-‘Asham bahwa Khilafah tidak wajib, atau juga dari yang selain dia, bahwa Khilafah wajib hanya berdasarkan akal, bukan berdasarkan ketentuan syariah, maka kedua pendapat ini batil (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alâ Muslim, 12/205). 

Alhasil, Peringatan Maulid Nabi saw. sudah seharusnya diarahkan untuk memotivasi umat agar sungguh-sungguh melakukan perubahan politik ke arah Islam sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bukan dengan tetap mempertahankan sistem demokrasi sekuler seperti saat ini. Hanya dengan itu Peringatan Maulid Nabi saw. akan jauh lebih bermakna. 

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

---*---

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

...ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ...

…Pada akhirnya akan datang kembali era Khilafah yang tegas di atas metode Kenabian... (HR Ahmad). []

---*---

0309 UPDATE GAZA BULETIN KAFFAH

JANGAN LUPAKAN GENOSIDA GAZA ‘GAZA MENJADI LADANG PUING GENOSIDA’

1. Jumlah Korban Terkini

• Sejak fajar Minggu (30/8), 78 warga Palestina gugur, termasuk 32 orang yang sedang mencari makanan.
• Data kumulatif (Otoritas Kesehatan Gaza):
  o 63.459 orang gugur
  o 160.256 orang luka-luka sejak 7 Oktober 2023.

2. Serangan Kota Gaza

• Pertahanan Sipil Palestina: kebakaran terjadi di tenda pengungsi dekat RS al-Quds setelah penembakan Israel.
  o “Setidaknya lima orang dibunuh dan tiga lainnya luka-luka ketika sebuah apartemen di dekat lingkungan Remal diserang.”
• Ismail al-Thawabta (Direktur Kantor Media Gaza):

“Lebih dari 80 alat peledak telah diledakkan di lingkungan sipil selama tiga pekan terakhir, sebuah kebijakan bumi hangus yang menghancurkan rumah-rumah dan membahayakan nyawa.”

• Ia menegaskan lebih dari satu juta warga menolak tunduk pada kebijakan pemindahan paksa dan pembersihan etnis.

3. Kota Menjadi Ladang Puing

• Hani Mahmoud (Koresponden Al Jazeera):

“Serangan penjajah Yahudi telah mengubah sebagian besar wilayah menjadi ladang puing.”
“Artileri berat terus-menerus menghantam wilayah Zeitoun dan Jabalia… hampir tidak ada pertempuran, tetapi artileri berat dan buldoser menghancurkan kompleks perumahan.”
“Sebagian besar orang tidak punya kemewahan untuk berkemas dan pergi, karena tidak ada tempat yang aman.”

4. Jurnalis Gugur

• Islam Abed, jurnalis Palestina dari TV Al-Quds Al-Youm, gugur dalam serangan di Kota Gaza.
• Kantor Media Pemerintah Gaza:
  o 247 jurnalis gugur sejak awal perang.
  o Data lain: lebih dari 270 korban dari kalangan media.
• Sehari kemudian: 5 wartawan gugur (termasuk wartawan Al Jazeera) di serangan RS Nasser, Khan Younis.

5. Warga Tetap Bertahan

• Sebelum perang: Kota Gaza dihuni 700.000 orang.
• Banyak yang kembali setelah gencatan senjata awal 2025 meski ada ancaman evakuasi.
• Fedaa Hamad (warga Gaza):

“Kami lelah dengan pengungsian pertama. Mau ke mana kami? Apakah ada tempat di selatan? Kami tidak menemukannya.”

• Akram Mzini (warga Gaza):

“Kami pernah mengungsi ke selatan sebelumnya, dan itu sangat sulit dan mahal. Hidup ini berat, jadi kami akan tetap di rumah. Apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi.”

6. Serangan di Gaza Tengah

• Deir el-Balah:
  o Setidaknya 4 orang gugur akibat serangan di pusat kota.
  o Sebelumnya, 1 orang gugur dan beberapa luka-luka akibat pemboman lain.

Sumber utama: Al Jazeera & kantor berita internasional (30–31 Agustus 2025).

Jumat, 29 Agustus 2025

Tagged under: ,

Pejabat Berlimpah Harta, Rakyat Makin Menderita



Buletin Kaffah Edisi 408 (5 Rabiul Awal 1447 H/29 Agustus 2025 M)

Kabar kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR di tengah rakyat yang makin susah sontak menuai kontroversi dan kritik tajam dari berbagai kalangan. Di tengah kebijakan efesiensi Pemerintah, anggota DPR justru menikmati penghasilan dan tunjangan luar biasa. Diberitakan, mereka mendapat penghasilan Rp 3 juta perhari. Total sekitar Rp 100 juta perbulan. Bahkan diberitakan, pendapatan mereka sebetulnya bukan Rp 100 juta perbulan, tetapi Rp 230 juta perbulan. Diberitakan pula, pajak penghasilan mereka ditanggung negara (baca: rakyat).

Para pejabat negara seperti menteri, wakil menteri, dan komisaris juga mendapatkan penghasilan yang luar biasa. Bahkan komisaris bisa berpenghasilan miliaran rupiah pertahun. 

Sungguh ironis. Fenomena ini menunjukkan miskinnya etika dan tumpulnya nurani wakil rakyat dan para penguasa. Mereka bergelimang harta—yang berasal dari pajak rakyat—justru di tengah kehidupan rakyat yang makin menderita. 

*Jabatan Sebagai Bancakan*

Gemuruh suara bubarkan DPR sontak mengemuka. Rakyat mempertanyakan sejauh mana DPR telah bekerja untuk membela rakyat. Apalagi saat ada adegan joget-joget di gedung parlemen. Sontak suara rakyat semakin tajam memberikan kritiknya. 

Selama ini gaji tinggi dan tunjangan besar DPR dan para pejabat negara dinilai tidak berkorelasi dengan kinerja tinggi. Buktinya, rakyat tak kunjung membaik kehidupannya. Justru kemiskinan dan pengangguran semakin tinggi. Ironisnya lagi, banyak pejabat yang terlibat tindak pidana korupsi. 

Politik demokrasi memang mahal. Modal yang harus dikeluarkan untuk berebut kursi DPR sangatlah tinggi. Tidak mengherankan jika para pejabat berharap dapat mengembalikan modal politik yang telah dikeluarkan dengan berbagai cara. Baik dengan cara legal, seperti menaikkan gaji dan tunjangan, atau melalui cara-cara ilegal seperti suap dan korupsi. Korupsi hari ini bahkan bukan lagi di angka miliaran atau puluhan miliar rupiah, tetapi sudah menembus angka triliunan hingga ratusan triliun rupiah. Demikianlah, jabatan akhirnya dijadikan sebagai bancakan untuk menumpuk pundi-pundi kekayaan meskipun dengan cara-cara haram sekalipun. 

Jelas, demokrasi adalah sistem politik yang tidak mengenal istilah halal dan haram. Politik dalam sistem demokrasi juga pada akhirnya tak lebih dari hanya bagi-bagi kursi kekuasaan. Sistem demokrasi sekuler yang diterapkan di negeri ini justru semakin menjadikan negeri ini tak kunjung melahirkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat yang konon katanya pemilik kedaulatan. 

Sistem politik demokrasi hanya melahirkan segelintir elit oligarki yang berkuasa atas kekayaan negeri ini. Melansir Thoughtco, "Oligarki" berasal dari kata Yunani "oligarkhes", yang berarti "sedikit yang memerintah". Jadi, oligarki adalah struktur kekuasaan yang dikendalikan oleh sejumlah kecil orang. Saat demikian kepentingan segelintir orang (oligarki) itu tidak mewakili kepentingan orang banyak (rakyat). Inilah yang terjadi dalam sistem demokrasi.

Karena itu sistem demokrasi menjadi sebab utama carut-marutnya negeri ini. Dalam sistem demokrasi, rakyat hanya dibutuhkan suaranya saat Pemilu. Namun, setelah mereka berhasil menjadi anggota dewan atau menjadi pejabat, rakyat justru sering ditinggal dalam kesendirian mengadu nasibnya. Mereka sibuk berebut proyek untuk menumpuk-numpuk kekayaannya. Mereka bangga memamerkan harta kekayaannya di tengah penderitaan rakyat. Mereka bergaya hidup mewah di tengah hidup rakyat yang semakin susah. 

*Sebab Kehancuran Suatu Negeri*

Hidup bermewah-mewah dan bermegah-megahan tercela di dalam Islam. Apalagi jika dilakukan oleh para pemimpin dan penguasa. Allah SWT dengan tegas mencela hidup bermegah-megah dalam firman-Nya: 

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ . كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ . ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ . كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ . لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ . ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ . ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Bermegah-megahan telah melalaikan kalian hingga kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu. Kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Janganlah begitu. Kelak kalian akan mengetahui. Janganlah begitu. Jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat Neraka Jahim. Sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan kasatmata. Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu). (TQS at-Takatsur [102]: 1-8).

Di lain ayat, Allah SWT juga telah menegaskan bahwa salah satu faktor penyebab kehancuran suatu negeri adalah saat para pemimpinnya hidup mewah dan menentang syariah-Nya. Demikian sebagaimana firman-Nya: 

وَإِذَآ أَرَدۡنَآ أَن نُّهۡلِكَ قَرۡيَةً أَمَرۡنَا مُتۡرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيۡهَا ٱلۡقَوۡلُ فَدَمَّرۡنَٰهَا تَدۡمِيرًا 

Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka Kami memerintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Karena itu sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (TQS al-Isra’ [17]: 16).

Ada empat faktor yang mendatangkan murka Allah SWT terhadap umat-umat terdahulu hingga mereka dihancurkan dan dibinasakan. Pertama: Ketidaktaatan mereka pada syariah Allah SWT. Kedua: Kehidupan para pemimpin dan pejabat yang bermewah-mewahan, sementara rakyatnya miskin dan menderita. Ketiga: Terjadi berbagai bentuk kezaliman penguasa kepada rakyat. Keempat: Adanya pengingkaran atas kebenaran Islam yang didakwahkan oleh para utusan Allah dengan cara memusuhi dan menghina para utusan-Nya. 

Adapun saat ini penyimpangan terhadap hukum-hukum Allah SWT mewujud dalam penerapan sistem kapitalisme demokrasi sekuler yang materialistik. Sistem ini jelas-jelas memisahkan pemerintahan dari hukum-hukum Allah SWT. Inilah bentuk nyata penyimpangan negeri ini. Penyimpangan ini sangat berbahaya karena akan menjauhkan dari keberkahan dan ridha Allah SWT. Apalagi ketika ajakan dari para pendakwah agar negeri ini kembali pada hukum-hukum-Nya justru ditolak. Mereka malah menuduh para penyeru syariah ini sebagai kaum radikal dan fundamentalis. Ini berarti negeri ini telah sengaja menjauhi Allah SWT. Padahal Allah SWT telah memberikan peringatan tegas bagi orang-orang yang mengingkari perintah-Nya: 

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ 

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sesungguhnya bagi dia kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 124).

*Kekuasaan adalah Amanah dan Ketaatan*

Dalam pandangan Islam, kekuasaan adalah amanah berat yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Karena itu kekuasaan tak elok dan tak layak diperebutkan sebagaimana yang terjadi dalam sistem politik demokrasi. Para ulama dulu justru menolak saat ditawari jabatan dan kekuasaan. Bukan karena jabatan dan kekuasaan haram, tetapi karena mereka sangat memahami beratnya tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Sebaliknya, dalam sistem demokrasi sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan, jabatan dan kekuasaan justru diperebutkan mati-matian. 

Karena itu hanya dalam Islam para penguasa peduli kepada rakyat dan berakhlak mulia. Sebabnya, mereka menjadikan kekuasaan sebagai amanah dan wasilah untuk menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Bukan untuk mewujudkan ambisi duniawi. Hal ini antara lain tergambar dalam pernyataan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra.“Sesungguhnya aku memposisikan diriku terhadap harta Allah seperti wali anak yatim. Jika aku berkecukupan maka aku akan menjaga diri (tidak mengambil harta itu). Jika aku membutuhkan maka aku akan mengambil sekadarnya saja dengan cara yang baik. Sungguh aku telah diamanahi untuk mengurus urusan umat ini. Jika aku berbuat baik maka bantulah aku. Jika aku berbuat salah maka luruskanlah aku.” (Ibnu Saad, Thabaqât al-Kubrâ, 3/278).

Demikian juga yang dinyatakan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Khalifah Bani Umayah) kepada para pejabat di bawahnya, “Ketahuilah bahwa kekuasaan itu bukanlah santapan (untuk dinikmati), melainkan amanah. Pada Hari Kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil amanah kekuasaan itu dengan haq dan menunaikan kewajiban yang ada di dalamnya.” (Ibnu Abdil Hakam, Sîrah ‘Umar bin Abd al-‘Azîz, hlm. 59).

*Khatimah*

Oleh karena itu, bangsa ini harus segera menyadari bahwa seluruh masalah di negeri ini disebabkan oleh penerapan ideologi kapitalisme sekuler. Bangsa ini juga harus sadar dan yakin bahwa hanya syariah Allah SWT yang akan bisa menyelesaikan segala problem kehidupan rakyat di negeri ini.
Saatnya negeri ini keluar dari hukum buatan manusia menuju pada hukum dan aturan Allah SWT. Caranya dengan menerapkan syariah-Nya secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Demikian sebagaimana yang Allah SWT perintahkan: 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوٌّ مُّبِينٌ 

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).  

Penerapan syariah Islam secara kâffah tentu hanya mungkin bisa diwujudkan dalam institusi pemerintahan Islam, yakni Khilafah ‘alâ minhâj an-nubuwwah. 

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [] 

---*---

*Hikmah:*

Allah SWT berfirman:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka itu. (TQS al-A’raf [7]: 96). []

---*---

*UPDATE GAZA BULETIN KAFFAH*

*JANGAN LUPAKAN GENOSIDA DI GAZA*

*1. Deklarasi Resmi Kelaparan (Famine) oleh IPC/PBB*

• Pada 22 Agustus 2025, IPC (Integrated Food Security Phase Classification) menyatakan Gaza City dan sekitarnya mengalami "fase kelaparan" (IPC Fase 5).
• >500.000 orang telah terdampak kelaparan parah, dan diprediksi mencapai 641.000 jiwa pada akhir September.
• Ini adalah bencana kelaparan pertama yang dikonfirmasi di Timur Tengah modern.

*2. Kelaparan “Buatan Manusia” dan Kejahatan Perang*

• PBB dan organisasi kemanusiaan menyebut kelaparan ini sepenuhnya dapat dicegah.
• Blokade total, penghancuran sistem pangan, dan hambatan bantuan dianggap sebagai penyebab utama—bukan bencana alam.
• Disebut sebagai potensi “senjata konflik” dan mungkin memenuhi definisi kejahatan perang.

*3. Krisis Anak-Anak: Malnutrisi dan Kematian*

• UNICEF menyatakan Gaza mengalami “krisis nyata bagi kelangsungan hidup anak-anak.”
• Banyak anak sudah terlambat diselamatkan, terbunuh akibat kelaparan dan malnutrisi akut.
• Setidaknya 18.885 anak-anak dari total 62.000 korban terbunuh sejak Oktober 2023 (sumber: Government Media Office Gaza).

*4. Eskalasi Konflik Militer*

• Serangan udara dan darat penjajah yahudi terus meningkat di wilayah Gaza City (Zeitoun, Shejaia, Jabalia, Sabra).
• Tank-tank penjajah yahudi dilaporkan memasuki lingkungan Sabra (rekaman dari Al Jazeera Arabic).
• Serangan drone di Khan Younis menewaskan setidaknya 5 warga.
• Insiden penembakan terhadap warga yang mencari bantuan: 4 orang terbunuh saat mendekati titik distribusi.

*5. Rumah Sakit Gaza di Ambang Kehancuran*

• Fasilitas medis runtuh akibat kelebihan kapasitas, kekurangan bahan bakar dan obat.
• Bayi baru lahir dan balita adalah kelompok paling terdampak kelaparan dan kolapsnya layanan kesehatan (MAP).

Sumber Utama : BBC News, Aljazeera 

---*---

*KORBAN GAZA MINGGU INI*

*Korban Kelaparan*

21 Agustus: +2 orang meninggal → total 271 jiwa.
23 Agustus: +8 orang (termasuk 2 anak) → total 281 jiwa.
24 Agustus: +8 orang → total 289 jiwa.
Minggu ini: 18 orang meninggal akibat kelaparan.

*Korban Serangan Militer*

23 Agustus: Serangan Israel menewaskan 52–63 orang di Gaza City & sekitarnya (termasuk di area masjid, rumah sakit, dan titik distribusi bantuan).
Insiden tambahan: 4 warga ditembak mati saat mencari bantuan dekat distribusi makanan (AP/Al Jazeera).
Minggu ini: >60 korban jiwa akibat serangan militer.

Total Mingguan (21–24 Agustus 2025)

Kelaparan: 18 jiwa.
Serangan militer: >60 jiwa.
Total: ±80 jiwa meninggal hanya dalam 4 hari terakhir.